Kenangan
Termanis di Jogjakarta
Pukul 07.00, aku
membuka pintu kaca sederhana sebuah bangunan, masuk dan menempelkan tanda
‘buka’ pada pintunya, aku meletakkan tas ku diatas meja ruanganku, membuka komputer
untuk melanjutkan menulis naskah sebuah film yang akan ku rilis sembari
menunggu pasien baru yang datang hari ini.
Setelah 30 menit aku
membuka praktekku, pintu mulai terbuka dengan nada bel yang nyaring, seorang
wanita muda masuk dengan aroma minyak wangi bunga mawar yang khas, aku sudah
bisa menebaknya, dia pasti Sandra. Seorang majikan kucing angora putih
langgananku, dia baik, ramah, cantik dan suka berbagi. Sama seperti biasanya,
kali ini ia juga membawa kucing angoranya, Kitty.
“hy, Sandra… kitty”
“Dok, tolong dong… ini
Kitty udah hampir seminggu lesu terus, bulu dikepalanya juga mulai rontok, saya
khawatir nanti kepala Kitty botak, hehehe”
Ini kegiatan rutinku
sekarang, menjadi dokter hewan sekaligus sutradara untuk beberapa film yang
saya sadur dari novel laris di Indonesia, aku juga mengambil pendidikan
lanjutan strata 3 kelas karyawan pada hari jum’at dan sabtu di salah satu
universitas ternama di kota pelajar ini, Jogjakarta.
Aku sudah lima tahun
tinggal di Jogjakarta, tinggal di rumah sederhana yang mirip dengan kebun
binatang kata orang-orang. Sengaja aku merawat semua hewan yang aku sukai,
selain karena aku dokter hewan, aku juga merawat mereka untuk menemani
kesepianku ketika di rumah. Aku tinggal sendiri di Jogja, orang tua ku di
Banten, sedangkan kakakku di Singapore
tinggal bersama suaminya.
Setelah pukul 17.00 aku
menutup klinik kecilku, ganti baju didalam mobil, dan berangkat menuju
Malioboro, tempat yang ramai dan sangat unik menurutku. Disana aku berjalan ngalor-ngidul mengulur sisa waktu hari
ini, membeli barang yang ku sukai, ber-selfie ria di beberapa tempat yang bagus
untuk dijadikan latar belakang foto.
Beberapa orang dan
wisatawan yang menemuiku kerap meminta foto bersamaku, mereka mengaku
mengenaliku lewat film yang ku buat, tidak jarang pula akulah yang diminta untuk
memotret mereka yang ingin berfoto bersama. Tapi sore ini, kurasa hari yang
sangat menyenangkan, tiada orang yang mengganggu perjalananku di Malioboro sore
ini.
Matahari mulai
tenggelam dan menyisakan mega merah di langit Jogjakarta, lampu jalanan mulai
terlihat di sekelilingku, kepala keluarga yang memboyong keluarganya mulai
berdatangan hanya untuk sekedar jalan-jalan, itu pemandangan yang indah
daripada melihat anak muda yang mencari tempat “nongkrong” yang nyaman bersama pasangan tidak halal mereka hanya
sekedar untuk ngobrol.
Malam ini aku merasa
lapar sekali, aku berjalan menuju tempat parkir mobilku, melaju pelan menyusuri
jalanan Malioboro di malam hari yang cukup dipadati masyarakat, lalu berhenti
di pinggir jalan untuk membeli kebab. Karena merasa tidak tahan lagi, aku
memakan kebab sambil menyetir mobil, memang berbahaya tetapi bahaya itu sudah
tertutup oleh rasa lapar yang aku rasakan. Dan benar saja, bahaya itu muncul,
baru empat kali aku menggigit kebab, seorang wanita berlari menyebrangi jalanan
yang aku lalui, dan Brakkk!!!...
“Astaghfirullah”
Spontan ku injak pedal
rem mobilku, kebabku terpental entah kemana, alarm mobil mulai memekakkan
telinga setiap orang yang mendengarnya. Aku buka pintu mobilku dan langsung
memapah korban yang ku tabrak untuk masuk ke dalam mobil, warga sekitar yang
melihat mulai menghinaku, tidak tahan dengan ocehan mereka, ku langsung
menginjak pedal gas mobilku dan mengarahkan stir menuju jalan yang menuju rumah
sakit.
Setelah dari rumah
sakit, aku mengajak korbanku untuk makan di restoran yang ada di pusat
perbelanjaan di Jogja, membelikannya sesuai apa yang ia minta sebagai tanggung
jawabku kepadanya.
“makan dulu ya, kamu
suka kan makanannya?” tanyaku
“iya bu suka”
“eh iya maaf yah soal
tadi, beneran deh aku ga sengaja banget, maaf ya… sorry bangettt”
“iya ga apa-apa bu,
lagian kata dokter gaada luka serius, Cuma tadi agak shock aja gitu”
“abis makan aku mau
ajak kamu keliling mall ini, kamu ada yang mau di beli?”
“engga bu, gausah. Udah
diobatin sama di traktir makan juga terimakasih banget”
“ga apa-apa gausah
malu, anggep aja ini permintaan maafku karena udah nabrak kamu…”
“oh iya, ini nomor
handphone aku, hubungin aja kalo ada apa-apa yang nyangkut kejadian tadi, atau
kamu bisa ke petshop aku deket Borobudur, aku anter kamu pulang yah” tambahku
seraya menyerahkan kertas berisi nomor teleponku.
Aku masuk mobil dan
mengantarkannya di hotel, mungkin dia wisatawan. Setelah itu aku langsung
menuju rumah, mandi, memberi makan kucing dan beberapa hewan lainnya, dan berbaring
di atas tempat tidur dan menatap langit-langit kamarku, aku baru sadar tadi aku
tidak menanyakan nama korban yang tadi ku tabrak.
“Asataga! Nama dia
siapa ya? Tapi, ah sudahlah… toh dia kelihatannya sudah memaafkanku”.
Dalam lelahku dan lamunku,
suara smartphone ku membuyarkan segalanya, aku segera men-check smartphoneku, ada notifikasi chat di salah satu sosial media
milikku, dan ternyata chat itu berasal dari sahabatku, Aina!!!.
Aina : Hy, Lissss apa
kabar?
Lisa : Ainaaaaaa, aku
baikkkk, kangen :’)
Aina : Kamu tinggal di
Jogja kan sekarang?
Lisa: Iya
Aina: Saya lagi di
Jogja nih! Kirim alamat kamu dong
Lisa : Kita ketemuan di
café Bonjour depan Borobudur aja ya, rumah aku jelek, kayak kebun binatang!
Hehe
Aku masih tidak percaya
akan bertemu Aina, kita terakhir
bertemu saat kita sama-sama lulus SMA di Cilegon. Aku membayangkan bagaimana
dia sekarang, sukseskah?, tambah cantikkah?, apa tubuhnya masih se-kurus dulu?
Ah, aku ingin hari berganti lebih cepat sekarang.
Keesokan harinya, aku
bangun lebih awal dari biasanya,menyambar handuk dan berlari menuju kamar
mandi, memakai baju sebagus mungkin, berkaca di cermin sejenak, mengambil kunci
mobil dan bergegas menuju mobil.
Aku berencana membuat
kejutan untuk Aina, jadi sebelum ke café, aku menyempatkan membeli bunga dan beberapa
barang khas Jogja. Setelah sampai di café, aku memarkirkan mobilku dan duduk di
meja nomor 12.
“sepi banget, sih”
gumamku dalam hati.
Lama menunggu, aku
akhirnya menghubungi Aina melalui chat dari sosial media.
Lisa : Aina, dimana?
Aku udh di café nih”
Aina : aku di jalan,
tunggu yaa..”
Sambil menunggu, aku memesan kue keju dan sop
durian, dan beberapa menit setelahnya, ada mobil terparkir di halaman café, dan
yang keluar adalah korban yang ku tabrak tadi malam!, astaga aku malu sekali
karena dia kemari bersama laki-laki tampan yang tampak seperti suaminya,
jangan-jangan aku akan diadukan pada suaminya!.
Ternyata, dia juga
melihat keberadaanku disini, ia dan suaminya menghampiriku, jantungku makin
berdegup, tapi aku memperlihatkan wajah biasa saja saat kami akhirnya
bercaka-cakap untuk beberapa menit.
“eh ibu,”sahutnya
“eh, ketemu lagi hehe,
sama siapa?”
“sama suami, kenalin bu
namanya Tri”
“oh, iyah…”
“ibu lagi apa disini?”
“nunggu temen aja hehe”
Aku lama-lama menjadi
bosan menunggu Aina, ku hubungi lagi dia.
Lisa : “Ainaaa! Kamu
dimana!”
Aina : “Kamu dimana?
Aku udah di café bonjour duduk di meja 12, bentar aku lagi ngobrol sama temen
dulu”
Spontan ku angkat
kepalaku dan memandang wajah korbanku yang juga terlihat sedang membalas pesan
dari seseorang, apa dia Aina? Ah, mana mungkin Aina tidak mengenaliku, dan bisa
saja dia sedang chat dengan orang lain. Kembali ku hubungi Aina.
Lisa : “Café mana?”
Aina: “Café mana lagi
kalo bukan Bonjour, kan udah janjian, aku pake baju ijo, duduk di meja 12
samping aku ada suamiku”
Aku spontan berdiri,
memasang wajah datar, memandang korbanku dan suaminya yang bingung dengan
kelakuanku, mereka ikut berdiri, memandangku aneh. Baju yang dikenakan korbanku
berwarna hijau, disampingnya ada suaminya, dan mereka duduk semeja denganku,
meja nomor 12!, aku memeluk korbanku yang mana dia adalah orang yang ku tunggu
di café ini, dia Aina!.
“kangen banget, makasih
udah mau ke Jogja, gimana kabar kamu? Berapa lama gak ketemu ya?”
“kamu Lisa?”
“Iya lah, emang siapa?”
“hah? Kamu Lisa? Ya
ampuuun kangen bangettt” sahutnya sambil balik memelukku
Tidak disangka,
ternyata kami sudah dipertemukan terlebih dahulu oleh tuhan dengan caranya yang
tidak terduga, aku tidak mengenal Aina saat aku menabraknya, begitu juga dengan
Aina, tidak mengenaliku saat dia kutabrak, entah apa yang berbeda hingga kami
tidak saling mengenali. Kami berdua memang sahabat yang unik dan tidak mudah
ditebak, kocak, dan selalu membuatku bahagia, seperti sekarang ini, membuat
hariku bahagia di kota Jogja yang damai ini.
Comments
Post a Comment