Mawar Dari Rian
Sedih
rasanya kali ini, sahabatku dari kecil sedang terbaring lemah di rumah sakit.
Aku sekarang sedang menunggunya di tepi tempat tidurnya, ruangan mawar nomor
satu, tepatnya di sana. Air mataku tidak dapat dibendung ketika melihatnya tertidur
diatas ranjang putih dengan banyak kabel dan selang yang melilit tubuhnya,
mulutnya yang manis tetap rapat dan matanya yang indah hanya bisa terpejam,
sesekali ia mengeluarkan air mata.
Tidak
sanggup rasanya menyiksa tubuh ini mengingat kembali kejadian tentang
kecelakaan yang menimpa Rian, teman kecilku itu. Aku hanya bisa mendoakannya
agar lekas sembuh dan bisa menemaniku lagi, akhirnya aku putuskan untuk pulang
ke rumah dan tidur, lelah badan ini setelah pulang sekolah, dilanjut latihan
rutin paskibra dan menemui Rian. Aku tidak mau sakit dan menambah kesedihan
Rian ketika tahu aku sakit walau dia sebenarnya tidak akan tahu itu.
Mungkin
aku memang terlalu lelah hari ini, dicampur juga dengan kesedihan yang ada
hingga tidurku dihiasi sebuah mimpi, aku sangat ingat mimpiku itu, aku berada
di sebuah taman yang banyak bunga mawarnya, bunga yang sangat aku sukai, namun
di mimpi itu aku rasanya ingin menangis ketika melihat bunga cantik itu.
“Lisa…”,
suara itu memanggilku dari kejauhan, terdengar dari nada suaranya yang
terdengar jauh, rasanya aku sangat familiar dengan suara ini, suara anak manis
yang setia dengan sahabatnya, Rian. Aku menoleh ke belakang, ke samping Kanan
dan kiri namun tak ku lihat Rian disana, aku beranjak dari peraduanku dan berputar
mengelilingi sekeliling taman hingga aku pusing dan terjatuh. Aku jatuh di
aspal jalanan yang ramai mobil, aku bingung dan cemas, dan panggilan dari Rian
itu terus berdengung dimana aku berada, aku bangkit hingga akhirnya ada mobil
yang melaju kencang, aku terjatuh lagi karena terdorong Rian, dan Brakkk!!!,
aku tidak berani lagi melihat jalanan dan asal suara itu dari mana, karena aku
sudah menebak apa yang akan terjadi. Aku pun akhirnya sadar dari tidur dan
mimpi burukku itu karena suara telepon yang berdering keras dan lama.
“hallo,
siapa?”, tanyaku mengawali percakapan.
“Lisa,
ini tante, kamu cepat kesini, kami butuh kamu…”, sahutan kecemasan itu
terdenngar jelas dari nadanya berbicara.
Aku
segera berganti pakaian dan menuju rumah sakit lagi, di depan gerbang ada mobil
ambulan hitam, dugaanku mobil ini siap mengantar jenazah, dan dugaanku benar
ketika lorong depan rumah sakit tibia-tiba ramai diikuti dengan suara dorongan yang
membawa mayat yang ditutupi kain putih, dan ketika mayat itu lewat dihadapanku,
kain putih yang menutupinya terbawa angin dan memperlihatkan bagian kepalanya,
sontak aku terpejam dan agak sedikit gemetar karena takut sampai akhirnya aku
mulai berlari kecil menjauhinya.
Sebelum
sampai di ruangan tempat Rian dirawat, ibu Rian yang akrab aku panggil tante
berlari dan seketika memelukku dengan derai airmata dari pelupuk matanya.
“ada
apa, tante?, cerita aja…”, ucapku sambil mengelus punggungnya yang dingin.
“tante
gak mau cerita, tante cuma mau nitip satu sama kamu, kalo Rian ada salah, maafin
ya”, jawab tante seraya melepaskan pelukannya.
Ucapan
itu membuat batinku tersentak, aku sudah bisa menduga apa yang terjadi, apa
mungkin mimpiku tentang bunga mawar itu pertanda?, air mataku sudah tidak bisa
kurasakan lagi, kerudungku sampai basah karna menyerap air mata yang jatuh dari
pipiku, orang yang lewat didekatku sampai menatapku dalam.
“maaf
Rian udah ninggalin kamu, tadi Rian sempet sadar sekitar 45 menit, kita kaget
litanya terus dia nyari kamu katanya mau ngomong tapi gak sempet, dan akhirnya
dia nulis ini buat kamu dan dia terakhir bilang “titipin ini buat si kurus,
saya mau tidur” dan dia bener-bener tidur, makasih udah mau jadi temennya
Rian”, senyuman tante seakan menutupi kejadian yang terjadi, ia memberikan
kertas putih dengan tulisan jelek didalamnya dan aku hanya menyimpannya di tas
kecilku.
“Rian
dimana, tante?”.
“dia
udah dibawa tadi make mobil jenazah, sengaja buru-buru tante suruh bawa pulang,
kasian jasad Rian”.
Jadi,
mayat yang lewat dengan tertutup kain putih tadi itu Rian? Mayat yang
menunjukkan wajahnya untukku tapi aku ketakutan itu Rian? Si alis tebal yang
suka makan? Si jahil yang tidak habis ide mengerjai teman-temannya? Anak
periang dan humoris itu? Sahabatku itu? Dan tadi berarti adalah orang yang
menyelamatkanku dari kecelakaan minggu lalu? Dia mengorbankan nyawanya untukku?.
Aku
berlari kencang sampai depan gerbang dan mobil jenazah itu sudah pergi, aku
terus berlari mengejar mobil hitam bersirine yang melaju dengan kencangnya, aku
tidak mempedulikan banyaknya mobil dijalanan ini hingga aku tertabrak, banyak
orang berkerumunan disekelilingku hingga semuanya menjadi hitam.
Dan
ketika aku bangun, aku memakai baju serba putih, disampingku ada Rian yang
membawa mawar dan surat yang tadi tante berikan padaku, dia senyum dan
memberikan bunga mawar kesukaanku itu beserta suratnya.
---
Lis, kalo saya udah pergi gausah nyesel, udah takdir. Titip mamah dan jangan
lupain saya, sahabat kmu, Rian.—
Setelah aku membacanya Rian pergi menjauh
disertai cahaya putih yang menyilaukanku, dan kekita aku benar-benar sadar,
surat dari Rian hilang dari tas kecilku, di tasku hanya ada mawar merah cantik,
aku ternyata dibawa ke klinik oleh tante ketika aku tertabrak, rasa sedihku
sangat memuncak kali ini, sore harinya aku mengunjungi makam Rian dan aku
berjanji akan terus mengingat dan mengunjunginya.
Comments
Post a Comment